Xiaomi berhasil menarik perhatian industri otomotif dengan sedan listrik SU7, sementara Apple harus menghentikan rencana ambisiusnya untuk membuat mobil sendiri. Lalu, apa yang membuat Xiaomi bisa sukses sementara Apple justru gagal?
Dilansir Carscoops, Xiaomi dikenal sebagai perusahaan teknologi yang memiliki ekosistem luas, mulai dari ponsel, perangkat rumah pintar, hingga peralatan elektronik lainnya. Dengan ekosistem ini, mobil listrik menjadi tambahan yang sempurna bagi lini produk Xiaomi. SU7 tidak sekadar kendaraan listrik biasa, tetapi bagian dari jaringan produk yang saling terhubung.
Apple sebenarnya sempat dikabarkan akan merilis mobil sendiri dan menjalin kerja sama dengan beberapa produsen otomotif seperti Hyundai, Kia, Porsche, BYD, dan Toyota. Namun, pada awal 2023, proyek ini resmi dibatalkan dan sekitar 600 karyawan terkena dampaknya.
Sebaliknya, Xiaomi justru berhasil menjual 135.000 unit SU7 sejak diluncurkan pada Maret 2024 di China. Dengan memanfaatkan ekosistem teknologi, Xiaomi menawarkan pengalaman berkendara yang lebih terintegrasi, di mana mobil dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan pengguna, termasuk menentukan waktu terbaik untuk pengisian daya berdasarkan data perangkat pintar lainnya.
Salah satu alasan utama kesuksesan Xiaomi adalah keunggulan rantai pasok di China. Negara ini telah menginvestasikan miliaran dolar untuk mendukung industri kendaraan listrik, memastikan bahwa seluruh rantai produksi tetap berada di dalam negeri. Xiaomi mendapat pasokan baterai dari BYD dan CATL, serta mengambil alih pabrik dari Beijing Auto Group untuk mempercepat produksi sedan listriknya.

