Lamborghini Temerario bukan sekadar model penting bagi pabrikan asal Italia, tapi juga menandai tonggak sejarah baru: supercar pertama Lamborghini yang bisa berjalan dengan bahan bakar sintetis. Teknologi ini memberi harapan baru bagi masa depan mesin pembakaran internal, di tengah tekanan global menuju elektrifikasi.
Meski banyak penggemar yang menyayangkan berakhirnya era mesin V10, Lamborghini tidak mengikuti jejak Mercedes-AMG yang mengganti performa dengan efisiensi semata. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan mesin V8 4.0 liter twin-turbo terbaru yang sanggup berputar hingga 10.000 rpm—angka luar biasa untuk mesin turbo. Tenaga tambahan juga disokong oleh tiga motor listrik, menjadikannya sebuah plug-in hybrid performa tinggi.
Dalam wawancaranya dengan CarExpert, Chief Technical Officer Lamborghini, Rouven Mohr, mengungkapkan bahwa Temerario dirancang untuk kompatibel dengan bahan bakar fosil maupun sintetis, membuka jalan bagi keberlanjutan mesin konvensional di era baru.
“Saya tidak mengatakan bahan bakar sintetis lebih baik dari fosil, tapi bisa jadi penyelamat mesin pembakaran,” ujar Mohr. “Mesin baru ini dirancang agar optimal dalam kedua jenis bahan bakar.”
Meski Lamborghini tengah mengembangkan kendaraan listrik murni pertamanya, Mohr menekankan bahwa emosi berkendara dari mesin pembakaran belum tergantikan oleh tenaga listrik. Bahkan ia percaya bahwa generasi mendatang akan kembali menganggap mesin ICE sebagai sesuatu yang “keren”.
Lebih dari sekadar inovasi masa depan, bahan bakar sintetis juga penting untuk menjaga kelangsungan ratusan ribu unit Lamborghini klasik yang masih aktif, bahkan setelah potensi larangan mesin ICE pada 2035 mendatang.

