Penerus Bugatti Chiron akhirnya telah diperkenalkan, yaitu Tourbillon. Hypercar terbaru ini memilih jalan yang berbeda dibandingkan pendahulunya. Jika Veyron dan Chiron mengandalkan mesin W16 dengan empat turbocharger yang menjadi ciri khas Bugatti untuk mencapai tenaga ribuan daya kuda, Tourbillon mengandalkan mesin V16 naturally aspirated dengan bantuan elektrifikasi.
Dilansir Motortrend, Bugatti tentu memiliki alasannya tersendiri meninggalkan turbocharger dan menyematkan eletrifikasi. Menurut Jalopnik, mesin W16 pada Chiron mencapai 435,9 kg, sekitar 20 persen lebih dari bobot keseluruhan Chiron. Sedangkan mesin Tourbillon berkisar 252 kg, namun Bugatti tidak menyebutkan bobot motor elektrik dan baterai berkapasitas 25 kWh. Namun, gabungan mesin dan sistem hybrid diklaim lebih ringan dibanding Chiron.
Hilangnya empat turbocharger bersamaan dengan oil cooler dan intercooler bisa memangkas banyak bobot. Konfigurasi mesin W memang lebih ringkas, namun membutuhkan lebih banyak komponen. Sedangkan V memakan lebih banyak tempat, namun menggunakan lebih sedikit material dan terbuat dari aluminum yang ringan.
Hybrid Bugatti Tourbillon Lebih Baik Dibanding Turbocharger?
Bobot yang berkurang hanya salah satu keuntungannya. Bugatti menyebutkan performa Tourbillon melebihi Chiron. Jika Tourbillon memiliki tenaga 1.800 hp, Chiron berada di angka 1.479 hp.
800 hp tenaga Bugatti Tourbillon berasal dari powertrain elektrik, yang terdiri dari dua motor elektrik pada bagian depan, lalu satu motor elektrik pada bagian belakang. Baterai menggunakan sistem oil-cooled untuk menjaga temperatur ideal agar bisa memberikan suplai tenaga yang dibutuhkan.

