Konsep utama sistem hybrid McLaren P1 adalah “torque fill”—menggunakan tenaga instan motor listrik untuk mengatasi turbo lag dari mesin V8 twin-turbo. Hasilnya? 903 hp dan 900 Nm. Kini, McLaren menghadirkan W1 dengan pendekatan hybrid yang berbeda.
Dilansir Motor1, McLaren mengembangkan W1 dengan filosofi baru: mesin turbo tetap responsif tanpa terlalu mengandalkan motor listrik. Richard Jackson, Chief Engineer Powertrain McLaren, menyebut sistem hybrid P1 bekerja terlalu keras. Maka, W1 lebih berfokus pada tenaga tambahan saat dibutuhkan, bukan hanya mengisi kekurangan mesin.
Hasilnya, tenaga meningkat 90% dibanding P1, mencapai 342 hp dan 440 Nm, dengan bobot lebih ringan 40 kg. Meski kapasitas baterainya lebih kecil, hanya 1,4 kWh dibanding 4,7 kWh pada P1, bobotnya turun menjadi 50 kg dari 106 kg. Jarak tempuh listrik berkurang dari 8 km menjadi 2,5 km, tetapi McLaren menekankan bahwa pelanggan W1 lebih mementingkan performa dibanding mode listrik penuh.
Baterai W1 terinspirasi dari Speedtail, menggunakan sel berbentuk silinder dan lebih ringan 2 kg dibanding Speedtail. Sistem hybrid ini mengintegrasikan motor listrik dan kontrolnya dalam unit “E-Module” seberat 20 kg, dipasang di samping transmisi dual-clutch 8-percepatan untuk torsi lebih tinggi tanpa membebani kopling utama.
W1 diperkenalkan dengan mesin V8 4.0L baru, MHP-8, dengan bore 92 mm dan stroke 75 mm. Tenaganya 916 hp dan 900 Nm, setara dengan total output hybrid P1.
McLaren juga menerapkan berbagai inovasi:
- Mesin lebih ringkas & ringan 10 kg
- Turbo twin-scroll lebih besar untuk respons cepat
- Katup intake berongga berisi natrium untuk pendinginan optimal
Dirancang memenuhi regulasi Euro7, MHP-8 akan digunakan di model McLaren masa depan, termasuk penerus 750S.

