Kehadiran mobil listrik pertama sepanjang sejarah Ferrari, yang diberi nama Luce EV, sukses memicu kehebohan besar di jagat maya. Mayoritas fans dan pencinta otomotif merasa kecewa karena desain mobil seharga 640.000 dolar AS atau sekitar Rp10,4 miliar ini dinilai terlalu biasa, hambar, dan kurang mencerminkan aura eksotis khas pabrikan Maranello. Meski begitu, para petinggi Ferrari memilih untuk tetap pasang badan menghadapi kritik pedas netizen, bahkan beberapa di antaranya mengaku senang melihat kehebohan yang terjadi.
Pernyataan menarik ini datang langsung dari Emanuele Carando selaku Global Marketing Director Ferrari. Seperti yang dilaporkan oleh Thanos Pappas dari Carscoops, Carando mengakui bahwa pihak pabrikan sebenarnya terkejut dengan skala dan besarnya respons negatif yang masuk, meskipun sejak awal mereka sudah menduga bahwa produk ini akan memicu pro-kontra yang kuat. Alih-alih panik karena mobil listrik pertamanya dihujat, Carando justru melihat badai kritik ini sebagai wave promosi gratis yang sangat masif dan menguntungkan dari sisi pemasaran.
Saat diwawancarai oleh Edmunds, Carando membeberkan alasan mengapa ia malah menikmati kemarahan publik tersebut. Sebagai seorang direktur pemasaran, ia merasa sangat puas karena reaksi keras ini membuktikan bahwa Ferrari adalah merek yang sangat dicintai dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat, sehingga semua orang merasa berhak untuk berkomentar. Ia juga menambahkan bahwa setiap kali Ferrari menciptakan sesuatu yang baru, hal baru tersebut memang selalu berhasil membuat orang takut pada awalnya.
Carando optimis bahwa tensi kemarahan fans akan mereda seiring berjalannya waktu. Ia merefleksikan momen beberapa tahun lalu ketika Ferrari pertama kali meluncurkan crossover Purosangue. Kala itu, banyak orang berkomentar miring bahwa sang pendiri, Enzo Ferrari, akan menangis di kuburannya melihat Ferrari membuat mobil tinggi. Namun pada akhirnya, Purosangue justru bertransformasi menjadi salah satu mobil yang paling dicintai di dunia saat ini.
Sebagian besar kritik netizen terhadap Luce tertuju pada proporsi bodi dan bentuknya yang dirancang oleh firma desain LoveFrom. Menanggapi hal itu, Carando membela desain kontroversial tersebut dengan alasan teknis performa. Ferrari bisa saja dengan mudah mengambil basis Purosangue, mencopot mesin V12-nya, lalu menggantinya dengan motor listrik dan baterai, namun langkah itu dinilai bukan keputusan yang tepat. Ferrari sengaja membangun Luce dengan arsitektur khusus kendaraan listrik yang menghasilkan ruang kabin lapang dengan kap mesin yang sangat pendek. Desain ini membuat posisi duduk pengemudi menjadi sangat dekat dengan roda depan, sehingga mobil memiliki tingkat presisi yang luar biasa saat bermanuver di tikungan.
Di luar masalah estetika, Ferrari Luce juga sempat diterpa isu miring mengenai taktik penjualan di showroom. Beredar rumor bahwa konsumen diwajibkan membeli Luce terlebih dahulu agar bisa mendapatkan antrean untuk membeli mobil edisi terbatas Ferrari lainnya di masa mendatang. Namun, laporan mengenai strategi bundling tersebut langsung dibantah keras oleh pihak internal.
Enrico Galliera, yang menjabat sebagai Chief Marketing and Commercial Officer Ferrari sebelum akhirnya mengundurkan diri baru-baru ini untuk mencari tantangan baru, sempat menegaskan bahwa Luce tidak akan pernah dipaksakan penjualannya kepada siapa pun. Mobil listrik ini hanya akan diberikan kepada konsumen yang memang benar-benar berniat untuk membelinya.
Hal senada juga dijelaskan oleh Alessandro Vaccari selaku Sports Cars Media & PR Manager Ferrari. Ia memastikan bahwa Ferrari tidak pernah menerapkan strategi pemaksaan paket penjualan. Sebagai gantinya, Ferrari menggunakan sistem penilaian berbasis algoritma kompleks yang merekam setiap interaksi dan loyalitas konsumen terhadap brand. Sistem penilaian yang objektif inilah yang nantinya digunakan untuk menyaring dan menentukan konsumen mana saja yang masuk ke dalam daftar Top VIP untuk mendapatkan akses eksklusif ke model-model langka seperti 12Cilindri Manuale.

