BYD Bantah Perlakukan Karyawan Seperti Budak

BYD Ketahuan Perlakukan 163 Karyawan Seperti BudakBYD Ketahuan Perlakukan 163 Karyawan Seperti Budak (Reuters)

Jinjiang Group selaku kontraktor BYD di Brasil dengan tegas membantah tuduhan bahwa mereka mempekerjakan pekerja dalam kondisi seperti perbudakan di lokasi konstruksi pabrik baru BYD.

Dilansir Carscoops, sebelumnya, pihak berwenang Brasil melaporkan bahwa mereka menemukan 163 warga negara Tiongkok bekerja dalam kondisi seperti perbudakan di lokasi pabrik tersebut. Pekerja dilaporkan bekerja melebihi jam kerja yang diizinkan oleh hukum setempat, hingga tujuh hari seminggu. Selain itu, dilaporkan hanya ada satu toilet untuk setiap 31 pekerja, dan para pekerja ditempatkan di asrama tanpa kasur serta fasilitas memasak yang sangat minim.

Kantor jaksa tenaga kerja setempat juga menyatakan bahwa kondisi di lokasi konstruksi berbahaya, dengan 107 pekerja diduga mengalami penyitaan paspor oleh kontraktor.

BYD Bantah Tuduhan Tersebut

Namun, Jinjiang dan BYD membantah tuduhan tersebut. Para pekerja pun berkumpul dan merilis pernyataan bersama, menyatakan bahwa ada kesalahpahaman dan mereka ingin tetap bekerja di lokasi tersebut.

“Dalam hal pencemaran nama baik merek Tiongkok, mencemarkan nama Tiongkok, serta mencoba merusak persahabatan antara Tiongkok dan Brasil, kami telah melihat bagaimana kekuatan asing tertentu dengan sengaja mengaitkan dan mencemarkan nama baik,” ujar juru bicara BYD, Li Yunfei, seperti dikutip ABC News. Dalam pernyataan terpisah yang diterbitkan di akun Weibo-nya, Jinjiang menyatakan, “Dicap secara tidak adil sebagai ‘budak’ telah membuat karyawan kami merasa bahwa martabat mereka telah dihina dan hak asasi mereka dilanggar, yang secara serius melukai harga diri rakyat Tiongkok.”

Kontraktor tersebut juga membagikan video daring yang menunjukkan para pekerjanya. Dalam video itu, sekelompok pekerja membacakan surat yang mereka tandatangani bersama. Mereka menyatakan bahwa laporan tentang kondisi “seperti perbudakan” telah melanggar hak asasi mereka, menambahkan, “Kami menghargai pekerjaan ini dan ingin tetap bekerja di sini.” Mereka juga menjelaskan bahwa paspor mereka diberikan kepada perusahaan untuk membantu pengurusan izin kerja sementara, karena mereka tidak bisa melakukannya sendiri akibat kendala bahasa lokal.

Namun demikian, setelah laporan mengenai kondisi kerja yang buruk muncul, BYD mengumumkan pemutusan kontraknya dengan Jinjiang. Para pekerja sementara akan ditempatkan di hotel terdekat. Selain itu, BYD menyatakan telah mengubah kondisi kerja di lokasi konstruksi dan memberi tahu kontraktor bahwa penyesuaian harus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *