Berdasarkan data dari Late Finance, BYD mendapatkan keuntungan rata-rata dari setiap mobil sebesar 9.000 yuan atau nyaris Rp 20 juta. Angka tersebut cukup jauh dibanding Tesla yang mendapatkan keuntungan 8.250 USD per mobil atau Rp 130 jutaan. Ini memperlihatkan strategi BYD untuk mengejar market share, bukan keuntungan semata.
Strategi mengejar market share sering digunakan para pebisnis di China. Strategi serupa juga digunakan oleh penyewaan sepeda, dimana para pemain saling memberikan diskon untuk mendapatkan market share, hingga dua perusahaan yang tersisa, yaitu Ofo dan Mobike. Persaingan yang kurang sehat membuat bisnis menjadi tidak menguntungkan lagi, bahkan keduanya tak sanggup bertahan.
Dilansir CarNewsChina, BYD pada tahun lalu berhasil menjual 2.706.075 mobil, setelah itu Tesla dengan angka 603.664. Posisi 10 diisi oleh Leapmotor dengan angka penjualan 144.155. BYD berhasil menjual dengan kuantitas yang banyak berkat harganya yang terjangkau.
BYD Sempat Tidak Merasakan Profit
Meskipun profitnya rendah pada tahun 2023, BYD sebenarnya berhasil meningkatkan profit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sebelum tahun 2021, angka profit bersih per mobilnya negatif. Pada tahun 2022 angka profit per mobil sebesar 5.600 yuan atau setara Rp 12 juta.

