Harga Pertamax, bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, mengalami kenaikan sejak 10 Agustus 2024. Harganya naik dari Rp12.950 per liter menjadi Rp13.700 per liter. Penyesuaian harga ini mengikuti tren harga minyak dunia (ICP) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan ini mempengaruhi pengeluaran bulanan, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi. Karena itu, banyak orang mencari alternatif yang lebih murah, seperti Pertalite yang beroktan 90.
Namun, Pertalite memiliki konsekuensi pada performa mesin kendaraan, terutama bagi kendaraan yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertamax. Pertamax (RON 92) yang memiliki kualitas lebih baik dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan performa mesin, sedangkan Pertalite tidak seefisien itu, yang berakibat pada penurunan performa mesin.
Dikutip dari Lifepal, penggunaan Pertalite pada mesin yang dirancang untuk Pertamax dapat menurunkan kinerja mesin dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan. Selain itu, Pertalite dapat menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat karena pembakaran yang kurang efisien, sehingga pengguna mungkin perlu mengisi bahan bakar lebih sering.
Kekurangan Pertalite Dibanding Pertamax
Dari segi lingkungan, Pertalite cenderung menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pertamax, yang bisa berpotensi memperburuk kualitas udara dan berdampak negatif pada lingkungan. Hal ini disebabkan oleh pembakaran yang kurang efisien dapat menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi. Di tengah masyarakat yang kini semakin sadar akan pelestarian lingkungan, penting untuk mempertimbangkan penggunaan jenis bahan bakar serta kontribusinya terhadap pencemaran lingkungan.

