Di era modern, persaingan di segmen mobil mewah bergeser ke layar berukuran besar, perangkat lunak canggih, dan berbagai fitur teknologi. Meski demikian, Mercedes mengakui bahwa kemewahan sejati tidak bergantung pada layar.
Dalam wawancara dengan ABC News, Gorden Wagener, Chief Design Officer Mercedes-Benz, menyatakan bahwa “layar bukanlah lambang kemewahan.” Ia menambahkan bahwa saat ini hampir setiap mobil sudah memiliki layar besar, sehingga bukan lagi sesuatu yang inovatif. Padahal, Mercedes sendiri sebelumnya begitu membanggakan teknologi Hyperscreen berukuran 56 inci yang terpasang pada model EQS.
Dilansir Autoevolution, Mercedes memahami bahwa mereka perlu meningkatkan aspek lain untuk mempertahankan reputasi sebagai merek mewah. “Kami harus menciptakan kemewahan di luar layar. Itulah mengapa kami menekankan pada keahlian dan tingkat presisi dalam desain kendaraan,” ujar Wagener. Ia juga mengakui bahwa layar besar masih memiliki kelemahan, terutama dari segi perangkat lunak:
“Dari sisi perangkat lunak, pengalaman yang ditawarkan belum optimal. Layar besar harus memiliki konten yang menarik dan berkualitas. Karena itu, kami sedang mengembangkan konten yang lebih spesifik dan menghibur.”
Meski demikian, Hyperscreen tidak akan dihapus. Pada 2026, Mercedes S-Class akan mendapatkan facelift besar yang menghadirkan tata letak layar mirip EQS. Saat ini, model tersebut sudah memiliki layar tengah berukuran besar, tetapi Mercedes ingin menyelaraskan sedan flagship bermesin konvensional dengan mobil listrik premiumnya.
Ketergantungan pada layar juga menimbulkan beberapa masalah, seperti dashboard yang mudah kotor oleh sidik jari dan bezel tebal yang kurang estetis untuk mobil mewah. Selain itu, penggunaan layar besar sering menggantikan tombol fisik, yang bagi sebagian orang lebih nyaman dan elegan dibandingkan sistem layar sentuh. Tren lain yang dipertanyakan adalah penggunaan pencahayaan ambient berlebihan, yang justru membuat interior mobil mewah terasa seperti klub malam tahun 1990-an.

