Keberadaan mobil listrik sudah menjadi bagian dari perkembangan teknologi industri otomotif. Kebiasaan pengemudi pun sedikit demi sedikit berubah, salah satunya soal pengisian energi.
Jika mobil bensin hanya butuh mampir ke SPBU terdekat untuk mengisi bahan bakar, pengguna mobil listrik rupanya harus merencanakan perjalanan lebih baik lagi. Karena pengisian baterai membutuhkan waktu dan lokasi-lokasi tertentu.
Dilansir Carscoops, mobil listrik pada umumnya memiliki bobot ekstra dan torsi melimpah yang dihasikan dari motor elektrik. Hal ini menjadi pemicu ban lebih cepat aus jika dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional. Namun, kebanyakan pembeli merasa kecewa karena tak diberitahu soal perbedaan yang satu ini.
“ Jarak kepuasaan antara pengguna kendaraan listrik dan kendaraan bensin menjadi kesempatan bagi produsen ban dan pabrikan otomotif untuk memberikan edukasi kepada pemilik kendaraan listrik soal perbedaan performa,” ungkap Ashley Edgar selaku J.D. Power Senior Director of Benchmarking.
Mobil Listrik Bisa Menimbulkan Polusi dari Ban yang Cepat Aus
Ini bukan soal perbedaan tingkat kepuasan konsumen saja. Ban yang cepat habis juga meningkatkan emisi. Emisi yang dihasilkan oleh ban berujung pada masalah pernapasan, kerusakan ginjal, dan permasalahan saraf. Karena ban kendaraan listrik cepat botak, maka polusi yang ditimbulkan lebih banyak.
Berdasarkan laporan J.D. Power, tujuan meningkatkan jarak tempuh dan mengoptimalkan ban menjadi tantangan yang berat untuk industri otomotif. Hal ini menjadi perhatian yang penting mengingat semakin berkembangnya segmen kendaraan listrik.

