Baterai Baru CATL Diklaim Sanggup Bekerja dalam Suhus Minus 40 Derajat Celcius

Baterai Baru CATL Diklaim Sanggup Bekerja dalam Suhus Minus 40 Derajat CelciusBaterai Baru CATL Diklaim Sanggup Bekerja dalam Suhus Minus 40 Derajat Celcius (InsideEVs)

China terus mencapai kemajuan baru dalam diversifikasi jenis kimia baterai yang digunakan pada kendaraan listrik (EV). Negara ini telah memimpin pengembangan subkategori kimia berbasis lithium, seperti nickel-manganese-cobalt (NMC), nickel-aluminum-cobalt (NCA), dan lithium-iron-phosphate (LFP). Kini, Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) mengklaim telah mengembangkan baterai sodium-ion dengan performa tinggi yang mampu menghadapi cuaca ekstrem.

Dilansir InsideEVs, baterai sodium-ion bekerja serupa dengan baterai lithium-ion, di mana ion bermuatan bergerak antara elektroda positif dan negatif selama siklus pengisian dan pelepasan daya. Penelitian menunjukkan bahwa baterai sodium-ion dapat mengatasi beberapa kelemahan baterai lithium-ion, seperti risiko thermal runaway yang lebih rendah, kemampuan beroperasi pada suhu beragam, serta biaya bahan baku utama seperti sodium hidroksida yang jauh lebih murah dibanding lithium hidroksida.

Kepala Ilmuwan CATL, Wu Kai, menyatakan bahwa baterai sodium-ion generasi kedua milik perusahaan mampu berfungsi normal hingga suhu -40 derajat Celsius, menurut laporan berbagai media lokal China. Kemampuan ini memungkinkan EV dengan baterai sodium-ion tetap memiliki daya jelajah pada suhu sangat dingin, menjawab salah satu kekhawatiran utama terkait kinerja baterai di cuaca ekstrem. Baterai ini direncanakan diluncurkan pada tahun 2025 di China, dengan produksi massal dimulai pada 2027.

Tantangan Baterai Lithium-ion

Suhu ekstrem, baik panas maupun dingin, merupakan tantangan utama bagi baterai lithium-ion. Pada suhu dingin, proses kimia di dalam sel melambat karena ion lithium tidak bergerak dengan leluasa, seperti air yang sulit mengalir melalui pipa yang membeku. Hal ini menyebabkan daya jelajah menurun, waktu pengisian lebih lama, dan potensi penurunan umur baterai jika terlalu lama terpapar suhu ekstrem. Sebaliknya, baterai sodium-ion menawarkan ketahanan lebih baik terhadap kondisi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *