Kendaraan listrik dengan baterai lithium iron phosphate (LFP) LFP lebih murah untuk diproduksi, memiliki risiko kebakaran lebih rendah, dan menawarkan masa pakai yang lebih lama dibandingkan dengan baterai nikel mangan kobalt (NMC). Namun, kepadatan energinya lebih rendah, sehingga produsen umumnya menggunakan baterai LFP pada mobil listrik model dasar.
Dilansir InsideEVs, produsen mobil biasanya menyarankan baterai LFP diisi hingga 100% secara berkala. Hal ini membantu kalibrasi baterai agar pembacaan jarak tempuh yang lebih akurat, serta bertujuan menjaga kesehatan baterai dan mencegah penurunan performa.
Sedangkan untuk baterai NMC, produsen merekomendasikan membatasi pengisian harian hingga 80-90%. Mengisi daya hingga 100% berpotensi mengurangi kapasitas baterai. Masa pakai baterai berkaitan erat dengan panas dan tegangan. Semakin tinggi tingkat pengisian, semakin tinggi tegangan dan panas dalam baterai, yang mempercepat proses degradasi.
Studi Baru Soal Mobil Listrik dengan Baterai LFP
Studi baru yang diterbitkan di Journal Of Electrochemical Society bertentangan dengan rekomendasi produsen mobil soal pola pengisian daya baterai LFP. Studi tersebut menyatakan bahwa siklus pengisian berulang pada tingkat pengisian yang tinggi dapat merusak sel baterai LFP seiring waktu..
Para peneliti menemukan bahwa menjaga baterai LFP tetap terisi penuh dapat menciptakan senyawa berbahaya di dalam baterai akibat tegangan tinggi dan panas. Pada tingkat pengisian yang lebih tinggi, ada tegangan yang lebih tinggi, yang mempercepat reaksi negatif di dalam elektrolit dan mengonsumsi lithium. Siklus pengisian di dekat tingkat pengisian puncak (75-100% State of Charge) merugikan sel LFP/graphite. Studi tersebut menyebutkan semakin rendah State of Charge, semakin lama masa pakai baterai.
Salah satu penulis studi ini adalah Dr. Jeff Dahn, seorang peneliti baterai pemenang penghargaan yang memimpin Jeff Dahn Research Group yang didanai Tesla.
Namun, studi ini memiliki beberapa kelemahan. Studi tersebut menyatakan bahwa siklus pengisian antara 0-25% dapat memperpanjang masa pakai baterai. Hal ini kurang praktis bagi pengguna sehari-hari, terutama jika Anda tidak memiliki pengisi daya di rumah atau kantor dan harus mengandalkan pengisian daya di tempat umum. Studi ini hanya fokus pada masa pakai baterai, bukan pada praktik pengisian daya mobil listrik terbaik secara keseluruhan.
Mengikuti rekomendasi dari produsen mobil Anda tetap disarankan, mengingat pabrikan berani memberikan garansi pada baterai mobil listrik yang ditawarkan.

