Kendaraan listrik (EV) telah menjadi tren besar akhir-akhir ini. Namun, keterbatasan utama dari kendaraan ramah lingkungan adalah daya jangkau dan juga kecepatan pengisian.
Dilansir Rideapart, ada satu aspek yang sering diabaikan dalam dunia EV, yaitu masa pakai baterai yang jauh lebih pendek dibandingkan dengan mesin pembakaran internal, dan komponen paling mahal dari EV adalah baterainya.
Daur ulang baterai sebenarnya sudah ada cukup lama, namun prosesnya sangat memakan energi dan mahal. Metode daur ulang konvensional biasanya melibatkan pemecahan baterai menjadi bahan baku, atau unsur-unsur yang digunakan untuk memproduksinya.
Mengolah Limbah Baterai Kendaraan Listrik
Namun, peneliti di Rice University, Houston, Texas, sedang memelopori metode baru untuk mengekstraksi bahan aktif murni dari limbah baterai. Temuan ini bisa merevolusi baterai EV, tidak hanya dengan mengurangi limbah baterai yang habis, tetapi juga dengan menurunkan biaya produksi secara keseluruhan.
Tim di Rice University mengusulkan bahwa sifat magnetik dapat digunakan untuk memisahkan dan memurnikan baterai bekas. Proses ini menggunakan metode yang disebut solvent-free flash Joule heating (FJH). Metode ini mengalirkan arus melalui bahan resistif untuk memanaskannya dengan cepat dan mengubahnya menjadi zat lain. Proses ini memanaskan limbah baterai hingga suhu 2.500 Kelvin, menciptakan struktur magnetik yang memudahkan pemisahan dan pemurnian. Yang lebih mengejutkan, kobalt—bahan baku penting dalam baterai EV—menunjukkan sifat magnetik, mempermudah proses daur ulang.

