Teknologi Formula 1, yang menghabiskan ratusan juta dolar untuk peningkatan performa dalam hitungan seperseratus detik, apakah bisa diandalkan untuk mobil sehari-hari?
Dilansir Motortrend, Adam Allsopp, direktur Advanced Technology di Mercedes-AMG High Performance Powertrains (HPP), mengatakan sebaliknya. Pengalaman mendalam HPP dengan unit daya hybrid berperforma tinggi di F1 kini menjadi dasar pengembangan kendaraan listrik dan hybrid Mercedes-Benz, yang akan hadir di jalan raya mulai tahun depan.
Sejak 2010, HPP, yang berbasis di Brixworth, Inggris, telah merancang dan membangun powertrain untuk mobil balap Formula 1 Mercedes-AMG. Didirikan pada 1983 dengan nama Ilmor oleh Mario Illien dan Paul Morgan, perusahaan ini awalnya membuat mesin untuk tim IndyCar Penske. Mereka kemudian memasuki F1 pada 1991 dengan mesin V-10 alami untuk tim Leyton House. Pada 1993, mesin mereka mendukung tim Sauber F1 yang didukung Mercedes, menandai kembalinya merek Jerman ini ke F1 sebagai pemasok mesin.
Prestasi Mercedes
Selama 30 tahun terakhir, powertrain HPP telah memenangkan 21 kejuaraan dunia, termasuk tujuh gelar pembalap untuk Lewis Hamilton dan delapan gelar konstruktor untuk tim Mercedes-AMG F1. Menurut Allsopp, misi utama HPP adalah menghasilkan perangkat keras yang memenangkan kejuaraan Allsopp memimpin pengembangan unit daya hybrid seri G yang digunakan sejak 2014 serta powertrain legal jalanan untuk hypercar AMG One.
Bagaimana teknologi balap diterapkan pada mobil jalanan? Menurut Allsopp, prosesnya tidak sesederhana mengambil teknologi F1 dan langsung menerapkannya pada mobil produksi. “F1 memungkinkan kami mengeksplorasi batasan teknologi,” jelasnya. Di era mobil listrik, prinsip-prinsip teknik dalam balap dan mobil jalanan mulai berbagi tema umum, seperti efisiensi energi. “Kami menginginkan efisiensi di balap karena ada batasan aliran bahan bakar dan energi, dan kami menginginkan efisiensi di mobil jalanan untuk meningkatkan jangkauan,” tambahnya.

